Featured Article
Tampilkan postingan dengan label artikel islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Desember 2012

Secangkir kopi untukmu, Sahabatku.


Sebuah kisah, yang membuat hati ini teringat dengan doa robithoh (ikatan hati). Lagu andalan kelompok Nasyid kami saat di SMA dahulu. Selalu awal kunyanyikan, selalu mengundang perhatian banyak orang, membuat pendengar menundukkan pandangan, merenungi isi dari doa robithoh tersebut...

Inilah syairnya :
Sesungguhnya Engkau tahu,
Bahwa hati ini telah berpadu,
Berhimpun dalam naungan cintaMu,
Bertemu dalam ketaatan,
Bersatu dalam perjuangan,
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatanNya,
Kekalkanlah cintaNya,
Tunjukilah jalan-jalanNya,
Terangilah dengan cahayaMu,
Yang tiada pernah padam,
Ya Robbi, bimbinglah kami...

Lapangkanlah dada kami,
Dengan karunia iman,
Dan indahnya tawakal padaMu,
Hidupkan dengan ma’rifatMu,
Matikan dalam syahid di jalanMu,
Engkaulah pelindung dan Pembela...

Mengingat memori indah saat dulu. J Lalu berlanjut pada kisah :

Seorang teman bercerita kepadaku,
“Subhanallah, tadi saya minum kopi, mantap banget rasanya... J, tahu ndak kenapa?”

Dalam benakku, berputarlah opini-opini tentang si kopi, dimana warung kopi itu, rasa kopinya pasti mantap, atau karena merknya yang sudah terkenal dan mahal, atau mungkin juga penyajiannya yang luar biasa, dengan aroma sentuhan timur tengah mungkin, ehem...jangan-jangan karena keramahan penjualnya.

Kemudian, aku menjawab,
“pasti karena tempatnya ya? Dimana sih? Atau karena rasa dan merk kopinya? Atau karena keramahan penjualnya, atau kopinya disajikan dengan cara yang menarik?”

Temanku menjawab,
“bukan karena itu semua, brian... Rasa kopinya biasa saja, tidak bermerk. Harganya hanya seribu rupiah satu gelasnya. Tempatnya pun hanya gubug reot dari anyaman bambu. Kalau ditanya penjualnya siapa, ia hanya seorang nenek tua yang sudah lanjut, bahkan sapaannya pun hampir aku tiada mendengarnya.
Brian... Kopi itu terasa nikmat, karena ada sahabatku yang datang membersamaiku menyeduh segelas kopi, ia adalah sahabat kecilku, yang kini telah merantau di negeri orang. Namun, sekarang, ia menyempatkan waktu berjumpa dengan ku.”

Sahabatku yang disayangi Allah,
Terkadang kita mengukur kabahagiaan dengan tolak ukur bendawi, harta, rumah, merk kopi uang kita minum (hehe), jam tangan bertuliskan merk dunia, lantas mengabaikan yang lainnya. Kebersamaan adalah kebahagiaan, ia yang membuat kita kuat dan teguh dalam menjalani kehidupan. Sahabat adalah mereka yang mengobati di kala sayatan melukai batin kita, saat hujan ujian menimpa diri kita, saat iman berjalan gontai hampir ambruk, sahabatlah yang akan menguatkan kita.

Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah untuk saling mengenal, saling memahami, bertasamuh dan saling membantu. Kehidupan ini begitu singkat, yuk kita upayakan dengan sebaik-baiknya.

Terimakasih kepada sosok yang memberiku inspirasi, menjadikan tulisan ini tertata rapi, yah, sebuah tulisan yang lahir dari ruang kuliahnya, selalu memberikan hal baru dalam hidupku, menjadikan berharga untuk ditulis dan disampaikan. Balighu ‘anni walau ayah.







Kamis, 06 Desember 2012

Maqoshidus Syar'iyah, Software Decision Support Systems


مقا صد الشريعة
Assalamu’alaikum W.W.


Sahabatku yang dirahmati Allah SWT, in this good opportunity, ada sesuatu yang hangat untuk diceritakan, ia bernama Maqoshidus Syar'iyah.
Sebagai prolog, kupetikkan cuplikan tanya jawab ringan di ruang kuliahku.

Saat itu, waktu menunjukkan pukul 07.30 WIB, perkuliahan sudah berjalan 30 menit. Seorang mahasiswa terlihat baru datang, sambil mengetuk pintu. Lantas, ada kalimat perintah menarik dan unik dari Bapak Dosen, “Mas, tolong segera tutup pintunya ya..., Tutup pintunya dari luar.” Sambil tersenyum menatap mahasiswa tersebut.

Menurutmu, apa yang diinginkan oleh Pak Dosen? Ia mempersilahkan masuk kepada mahasiswa tersebut, atau bahkan sebaliknya? Kalimat perintah dari Pak Dosen mengandung pesan, yang harus ditelaah dan diartikan oleh mahasiswa tersebut. Bila menutup pintu adalah sesuatu yang wajar setelah membukanya, maka selanjutnya yang menjadi fokus perhatian adalah kata tutup pintunya dari luar. Aneh! Tak seperti biasanya, dan memang itu sapaan usiran yang lembut dari Pak Dosen untuk mahasiswa tersebut.

Sahabatku,
Dalam berbagai hal, pasti terkandung maksud dan tujuan, misalnya kalimat perintah yang tersebut di atas. Ia punya maksud untuk tidak menerima kedatangan mahasiswa yang terlambat ke dalam kelasnya. Allah SWT memberikan dua hal kepada kita, yaitu perintah dan larangan. Maksud dari perintah tentunya adalah agar manusia mendapatkan kebaikan dari apa yang diperintahkan. Misalnya sholat, puasa, zakat dan sebagainya. Sedangkan Allah memberikan larangan kepada manusia bermaksud untuk menjaga, menyelamatkan manusia dari hal-hal yang tidak baik.

Allah SWT mensyariatkan kepada manusia untuk mendirikan sholat lima waktu, karena sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Begitu juga dengan perintah puasa, ia mampu menumbuhkan empati sosial bahwa Allah memberikan rezeki kepada yang kaya untuk berbagi kepada saudara mereka. Ibadah Haji, mengajarkan persamaan derajat di hadapan Allah, kaya-miskin, tua-muda, hitam-putih, bangsawan-proletar, berjalan bersama thawaf terhadap ka’bah, memakai kain putih dengan pola yang sama, sebagai pemersatu umat islam.

Allah SWT melarang hambanya untuk mengumpat, hingga Allah mengibaratkannya sama dengan memakan bangkai saudara muslim sendiri. Mengapa, karena efek yang ditimbulkan akan berpengaruh negatif kepada saudara kita, objek umpatan, dan ataupun orang-orang yang ada disekelilingnya.

Sahabatku yang dirahmati Allah,

Maksud Allah memerintahkan sesuatu dan melarang atas sesuatu adalah menjaga umat muslim. Ada pesan yang ingin disampaikan Allah, pesan yang mampu menjaga kualitas kehidupan yang dijalani. Menurut Imam Syatibi, ada lima perkara yang ingin dijaga oleh islam dalam pondasi kehidupan, yaitu agama (الدين), jiwa(النفس), keturunan (kehormatan)(النسل), akal(العقل), dan harta(المال ).  Dan dengan tool/ software Maqoshidus Syar'iyah inilah, kita dapat menganalisis segala bentuk opsi/ masalah untuk mendukung keputusan tertentu yang kita ambil.

Maqoshidus Syar'iyah adalah tool dengan cara kerja :
Bila keputusan/ tindakan yang diambil dapat menjaga ataupun menguatkan lima perkara yang tersebut diatas (agama, jiwa, keturunan (kehormatan), akal, dan harta), maka lakukan tindakan itu. Namun bila yang terjadi sebaliknya, yaitu keputusan/ tindakan yang diambil dapat menurunkan atau merusak kualitas lima perkara tersebut, maka tinggalkanlah.

Ada sebuah case, seorang anak meminta ice cream kepada ayahnya. Apa yang harus dilakukan oleh sang ayah, membelikannya atau tidak. Maka menentukan tindakan/ keputusan dapat menggunakan Maqoshidus Syar'iyah sebagai alat bantu analisis.

Apabila ice cream itu dapat menjaga agama (الدين), jiwa(النفس), keturunan (kehormatan)(النسل), akal(العقل), dan harta(المال ), maka belikanlah. Jikalau tidak, maka jangan belikan. J Contoh yang unik. Tapi dalam hal ini, ice cream dapat mengganggu kesehatan si anak, jadi tidak membelikannya adalah keputusan yang harus diambil. Begitu saja, sangat sederhana. Segala macam permasalahan di dunia ini bermuara kepada lima perkara di atas.

Semoga bermanfaat, ditunggu kritik dan sarannya.
Wassalamu’alaikum W.W.


Selasa, 04 Desember 2012

Our prophet, talk about global warming


عن جابرعن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم أنّه نهي أن يبال في الماءالرّاكد
Dari Jabir ra, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau melarang buang air kecil pada air yang menggenang. (HR Muslim)

Sahabatku yang dirahmati Allah, Nabi Muhammad SAW dalam hadits di atas menyampaikan larangan untuk buang air kecil pada air yang menggenang. Beliau memperhatikan hal tersebut, sekilas memang hadits ini terasa kurang bernilai. Namun, bila ditelaah lebih jauh, hadist ini berbicara tentang menjaga lingkungan hidup (keeping the green world).

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, jazirah Arab adalah dataran yang gersang, sulit untuk menemukan air, tidak semudah di bumi Indonesia. Air adalah sumber daya alam langka di Jazirah Arab kala itu. Ketika ada air, meskipun sedikit saja, ia dapat dimanfaatkan untuk banyak keperluan. Larangan Nabi Muhammad ini menyatakan keberpihakan beliau kepada sumber daya alam yang terbatas untuk kemanfaatan seluas-luasnya, bagi manusia dan makhluk Allah lainnya.

Bila dikontekstualisasikan dengan zaman sekarang, hadist ini memberikan kita pemahaman bahwa segala bentuk sumber daya alam yang terbatas, misalnya hutan, lapisan ozon yang semakin menipis, ekosistem alam, satwa dan tumbuh-tumbuhan adalah wajib untuk dijaga dan dilestarikan untuk kebermanfaatan secara luas bagi manusia dan makhluk lainnya.

Hadist ini dapat dijadikan sebagai pondasi pemikiran untuk melawan global warming dan memacu semangat green peace, bahwa segala macam sumber daya yang terbatas namun mempunyai nilai manfaat bagi seluruh makhluk adalah hukumnya wajib untuk dilestarikan.

Ayo lestarikan lingkungan!
Stop penebangan hutan secara illegal!
Stop konsumsi CFC!

Subhanallah, kita belajar kembali, meneladani uswatun hasanah seluruh alam, tentang keberpihakan beliau pada lingkungan hidup. Islam rahmatan lil ‘alamin.



Selasa, 27 November 2012

Belajar kembali kepada Abdullah bim Ummi Maktum



Allah berfirman tentang kebaikan alam semesta...
Kembali belajar kepada sahabat Nabi yang spesial, ia adalah Abdullah bin Ummi Maktum.

Al Quran, kitabullah yang diwahyukan kepada tauladan umat, Nabi Muhammad SAW. Dalam perjalanannya, Al Quran tak hanya berisikan tentang hukum-hukum yang mengatur dan melindungi keberlangsungan umat manusia. Namun di dalamnya juga ada akhlak, bagian dari islam yang mencerahkan dunia dengan lilin kebijaksanaan, melembutkan dengan kasih dan mencipta harmoni karena selaras dalam alunan nada yang beresonansi terhadap hati nurani.

Akhlak, mengingatkan pada suatu peristiwa saat uswah kita, Nabi Muhammad SAW ditegur oleh Allah. Kisah itu termaktub dalam surat ‘Abasa. Allah menegur Muhammad,
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
karena seorang buta yang datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum),
Dan tahukah engkau Muhammad barangkali ia ingin mensucikan diri,
Atau ia ingin mendapatkan pengajaran, yang memberikan manfaat kepadanya,
Adapun orang yang merasa serba cukup (kaum kafir quraisy),
Maka engkau malah memberikan perhatian kepadanya,
Padahal tidak ada cela atasmu jika dia tidak mensucikan dirinya,
Dan adapun orang yang datang bersegera kepadamu,
Sedang dia takut kepada Allah,
Engkau malah mengabaikannya,
Sekali-kali jangan begitu, Sungguh! Ajaran-ajaran Allah itu suatu peringatan.”

Aisyah pernah menjawab sebuah pertanyaan, “apakah akhlak Rasulullah, ya aisyah?” Aisyah ra menjawab, akhlak Nabi Muhammad adalah Al Quran.

Sahabat, Nabi adalah manusia biasa, ia mempunyai sifat manusiawi. Allah selalu menjaga dan mengingatkan perangainya, sehingga Nabi selalu memperbaiki diri, semakin memuliakan orang-orang disekelilingnya. Abdullah bin Ummi Maktum, yang dalam peristiwa itu menjadikan Nabi mendapat teguran, bermetamorfose menjadi sahabat yang anggun akhlaknya, mendapatkan posisi spesial di hati Nabi Muhammad SAW. Meskipun ia buta, tak mampu melihat isi dunia, ia selalu bergegas dan mencari pencerahan sekaligus nasihat kepada Nabi Muhammad SAW, orang yang paling dicintainya. Serpihan sejarah mengatakan, saat itu Abdullah bin Ummi Maktum sempat meminta keringanan kepada Nabi Muhammad SAW, “Yaa Nabi, aku adalah seorang buta, rumahku jauh, bolehkah aku tidak melaksanakan sholat di masjid?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “silahkan”. Namun tak lama kemudian, Bilal mengkumandangkan azan. Abdullah bin Ummi Maktum mungkin hanya tersenyum kala itu, mungkin dalam hatinya “inilah cara Nabi mengingatkanku untuk selalu menjaga sholat jamaah dalam kondisi apapun.”
Sahabat, Abdullah bin Ummi Maktum dengan kekurangannya, mampu melakukan hal yang bahkan tak dapat dibayangkan oleh kita yang normal secara lahiriyah. Nabi Muhammad SAW selalu menggelar sorbannya sebagai alas duduk Abdullah bin Ummi Maktum, setiap kali saat Abdullah berkunjung ke rumah Nabi Muhammad SAW. Subhanallah. Akhlak Nabi kepada Abdullah. Anda bisa mengira-ira, bagaimana senang hati kita saat seorang Presiden membentangkan ataupun membukakan pintu rumahnya untuk kita, rakyatnya.

Secuil ibrah dari perenungan yang disampaikan oleh Ustadz Budi Jaya Putra,...
“Bahwa kebijaksanaan adalah saat kita mampu melihat sesuatu yang tidak nampak,
Tidak ada seorang yang sempurna di dunia ini, karena...
Allah melihat perjuangan kita dalam upaya mendekatkan diri kepadaNya, berbuat kebajikan, dan tak hanya sebatas cover yang akan hancur nantinya...,
Pengharapan atas manusia hanya memberikan kekecewaan, namun pengharapan kepada Allah memberikan ketenangan dan keikhlasan, bahwa hidup adalah hidup di akhirat kelak...”

Saya iri... saya iri kepada kebaikan Abdullah bin Ummi Maktum ! Saya iri, terhadap akhlak Nabi kepada Abdullah bin Ummi Maktum... Yaa Nabi... bersamailah kami. Yaa Allah, ampuni dosa kami...

Minggu, 25 November 2012

Kepemimpinan Perempuan dalam Islam



Sahabat, ada sebuah hadist yang mengundang kontroversi, diriwayatkan oleh Bukhori, An Nasa’i, Tirmidzi dan Ahmad, yang berbunyi
“Dari Abu Bakhroh Rasulullah SAW bersabda, tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita.”

Bagaimana menurut Anda, apakah wanita tidak boleh memimpin? Sebelum menjawabnya, marilah kita pertimbangkan beberapa kajian tentang hal tersebut.

Allah mensejajarkan laki-laki dan perempuan
Dalam surat Al Hujurat (49) ayat 13, Allah berfirman :
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  

Artinya : “Wahai manusia, Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Dalam surat An Nahl (16) ayat 97, Allah berfirman :
ô`tB Ÿ@ÏJtã $[sÎ=»|¹ `ÏiB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB ¼çm¨ZtÍósãZn=sù Zo4quym Zpt6ÍhŠsÛ ( óOßg¨YtƒÌôfuZs9ur Nèdtô_r& Ç`|¡ômr'Î/ $tB (#qçR$Ÿ2 tbqè=yJ÷ètƒ ÇÒÐÈ  

Artinya : “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Dalam surat An Nisaa’ (4) ayat 124, Allah berfirman :
ÆtBur ö@yJ÷ètƒ z`ÏB ÏM»ysÎ=»¢Á9$# `ÏB @Ÿ2sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& uqèdur Ö`ÏB÷sãB y7Í´¯»s9'ré'sù tbqè=äzôtƒ sp¨Yyfø9$# Ÿwur tbqßJn=ôàム#ZŽÉ)tR ÇÊËÍÈ  

Artinya : “Barang siapa yang melakukan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk ke dalam surga dan tidak tidak didzolimi sedikitpun.”

Dari ketiga ayat tersebut di atas, maka bisa kita maknai bahwa di hadapan Allah tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam berbuat kebajikan, yang membuat berbeda adalah tingkat ketaqwaan dan eksistensi keimanan yang ada dalam setiap diri. Dari ayat tersebut di atas juga tidak ada komparasi yang mengelompokkan laki-laki dan perempuan, namun perlombaan dalam kebajikan bersifat universal tidak memandang ia perempuan ataupun laki-laki.

Lalu, bagaimana dengan hadist dari Abu Bakhrah?
Sahabatku yang dimulyakan oleh Allah, dalam mengkaji sebuah hadist ada kalanya tekstual dan ada kalanya secara kontekstual. Misalnya, tentang kaifiyat sholat, kita memahaminya secara tekstual karena sholat adalah ibadah mahdhoh yang telah diatur secara terperinci terkait rukun dan kaifiyatnya. Sedangkan hadist-hadist yang mengarah atas hal yang bersifat kontemporer (bisa berkembang sesuatu waktu), maka kita harus memperhatikan pemaknaannya (secara kontekstual).

Muhammadiyah memahami sebuah hadist sesuai dengan semangat dan ‘illatnya, sesuai dengan kaidah ushul fiqh, yaitu :
“Hukum itu berlaku sesuai dengan ada atau tidaknya ‘illat”

Sedangkan hadist dari Abu Bakhrah, Rasulullah menyampaikan hal demikian karena pada saat itu perempuan belum cukup pengetahuan, kemampuan serta pengalaman untuk diamanahi kepemimpinan. Dibandikan dengan sekarang, perempuan jauh lebih maju. Perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tidak kalah dengan laki-laki.

Sedangkan jika dilihat dari asbabul wurudnya (sebab-sebab munculnya hadist), Nabi Muhammad SAW bersabda demikian karena mengkritisi pengangkatan putri Persia sebagai Ratu sepeninggal ayahnya, karena putri tersebut belum mampu untuk menggantikan peran kepemimpinan.  Sedangkan di sisi lain, Al Quran menceritakan betapa bijaksananya ratu Saba’ dalam surat An Naml (27) ayat 44 :
Ÿ@ŠÏ% $olm; Í?äz÷Š$# yy÷Ž¢Ç9$# ( $£Jn=sù çmø?r&u çm÷Gt6Å¡ym Zp¤fä9 ôMxÿt±x.ur `tã $ygøŠs%$y 4 tA$s% ¼çm¯RÎ) Óy÷Ž|À ׊§yJB `ÏiB tƒÍ#uqs% 3 ôMs9$s% Å_Uu ÎoTÎ) àMôJn=sß ÓŤøÿtR àMôJn=ór&ur yìtB z`»yJøŠn=ß ¬! Éb>u tûüÏJn=»yèø9$# ÇÍÍÈ  

Artinya : “Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika Balqis melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapnya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanya hanya lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat dzalim terhadap diriku, Aku berserah diri kepada Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh semesta alam.”
Ratu Saba’ (Balqis) berhasil memimpin rakyatnya kepada kemakmuran dan kesejahteraan. Apakah dengan fakta ini, hadist dari Abu Bakrah bersifat umum berlaku untuk setiap perempuan? Adalah tidak jawabnya. Hadist tersebut berlaku secara kasuistik, apabila perempuan yang hendak menjadi pemimpin belum berkompeten.

Apakah sama laki-laki dan perempuan, padahal Allah telah melebihkan laki-laki dalam surat An Nisaa’ ayat 34?
Allah SWT berfirman dalam surat An Nisaa’ ayat 34 yang bertulis :
ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr& 4 àM»ysÎ=»¢Á9$$sù ìM»tGÏZ»s% ×M»sàÏÿ»ym É=øtóù=Ïj9 $yJÎ/ xáÏÿym ª!$# 4 ÓÉL»©9$#ur tbqèù$sƒrB  Æèdyqà±èS  ÆèdqÝàÏèsù £`èdrãàf÷d$#ur Îû ÆìÅ_$ŸÒyJø9$# £`èdqç/ÎŽôÑ$#ur ( ÷bÎ*sù öNà6uZ÷èsÛr& Ÿxsù (#qäóö7s? £`ÍköŽn=tã ¸xÎ6y 3 ¨bÎ) ©!$# šc%x. $wŠÎ=tã #ZŽÎ6Ÿ2 ÇÌÍÈ  

Artinya : “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka, perempuan-perempuan yang sholeh adalah mereka yang taat kepada Allah, dan menjaga diri ketika suami tidak ada, karena Allah menjaga mereka....”

Dalam hal berlaku kebajikan, tiada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Beberapa track record perempuan dalam mengemban tugas amar ma’ruf nahi munkar adalah :
  1. Ummu Sulaim dan wanita-wanita dari kaum Anshar yang membantu pasukan muslim saat berperang, mereka bertugas mengobati dan membagikan konsumsi kepada pasukan.
  2. Istri Rasulullah, Aisyah ra, yang memimpin pasukan dalam perang jamal.
  3. Syifa’ binti Abdullah yang menjadi hakim pengadilan hisbah di pasar madinah pada masa khalifah Umar bin Khatab
Namun, perbedaan itu tetap ada dimana ada ranah yang harus diyakini bersama bahwa laki-laki adalah seorang suami (kepala keluarga) yang memberikan nafkah kepada keluarga, bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinya.

Pendapat-Pendapat Ulama
Menurut Syaikh Yusuf Al Qardhawi berpendapat bahwa setiap perempuan berhak untuk duduk dalam sebuah kepemimpinan di wilayah publik. Hal ini didasarkan  pada pemaknaan surat AT Taubah ayat 71 :
$tB tb%x. tûüÏ.ÎŽô³ßJù=Ï9 br& (#rãßJ÷ètƒ yÉf»|¡tB «!$# z`ƒÏÎg»x© #n?tã NÎgÅ¡àÿRr& ̍øÿä3ø9$$Î/ 4 y7Í´¯»s9'ré& ôMsÜÎ7ym óOßgè=»yJôãr& Îûur Í$¨Z9$# öNèd šcrà$Î#»yz ÇÊÐÈ  
Artinya : “dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan sholat, mununaikan zakat, dan taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Perempuan boleh menerima jabatan sebagai pemimpin atau memegang kendali kekuasaan menurut spesialisasi masing-masing, seperti jabatan, memberi fatwa berijtihad, pendidikan, administrasi dan sejenisnya. (al Qaradhawi, hal 529-530).

Menurut Buya Hamka, berdasar pada At Taubah ayat 71, beliau menafsirkan bahwa orang mukmin laki-laki dan perempuan, mereka bersatu dan saling memimpin satu sama lain dalam satu kesatuan i’tiqad, yaitu percaya kepada Allah SWT. Dengan kata lain, perempuan ambil bagian dalam menegakkan agama, dan membangun masyarakat beriman, baik laki-laki dan perempuan (Hamka, Tafsir Al Azhar hal 292-293).

Subhanallah, betapa Islam memberikan kedudukan kepada perempuan berupa jaminan yang tinggi dan mulia.

Kesimpulan
Bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam beramar makruf nahi munkar, derajat yang sama di hadapan Allah SWT. Namun, keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan publik, harus memperhatikan kewajibannya dalam keluarga terlebih dahulu. Kewajiban perempuan atas pendidikan anak, mengurus rumah tangga, memelihara harta suami harus diperhatikan dan dilaksanakan agar stabilitas keluarga terjaga. Karena keluarga adalah fondasi utama untuk membangun sebuah peradaban, dan seorang ibu adalah madrasah utama bagi anak-anaknya. Wallahu ‘alam bi ash shawab.


Artikel ini ditulis ulang dari artikel Suara Muhammadiyah, edisi Juli 2012.
Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah

Popular Posts

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Test Footer 2