Jumat, 22 Maret 2013

Menulis bagiku adalah mimpi yang nyata


Menulis bagiku adalah mimpi yang nyata. Bukti perjalanan hidup yang akan mudah difahami orang-orang setelahku, aku punya bukti, aku punya kisah, untuk perbaikan atau malah dilalaikan. Menulis bagiku adalah sama seperti ungkapan Chekhov, bahwa orang akan menjadi lebih baik hanya ketika kamu membuatnya melihat seperti apa dirinya, iya benar, bahwa menulis adalah caraku berpendapat tentang sesuatu yang kulihat, kurasakan, bahkan sesuatu di luar sana yang kuinginkan, bukan hanya itu, sesuatu yang ingin kutendang keluar jauh dari galaksi bimasakti, sesak dan kepedihan, luka dan kesakitan, begitu juga dengan kebahagiaan, rasa cinta, ataupun cemburu. Sungguh menarik. Menulis bagiku adalah cara berfantasi ke negeri antah berantah, tempatku menanam impian dan idealism ku. Berkaca pada air yang bening, melihat struktur wajah ku yang mulai keriput kusam, berkaca pada cermin yang tidak lebih jujur dari kawanku saat kutanya tentang ini dan itu. Menulis mengembalikan ku pada dunia yang ingin ku rasakan khidmatnya berduaan dengan Zat yang Maha Agung. Menulis membuatku terbebas dari belenggu-belenggu yang mau tahu apa yang kurasa. Menulis, ya dengan menulis.

Saat aku bosan dengan si dia yang mengajariku tentang perangkat lunak, aku pun menuliskan puisi kesedihanku untuk kuungkapkan dikala aku merindunya. Saat aku pusing dengan kepalaku sendiri, aku menuliskan pelbagai macam obat yang tak bisa kubeli untuk kesembuhanku, hingga waow pusingku lenyap. Lucu kah? Terkadang begitu apa yang terjadi. Menulis adalah energy terbesar dalam kehidupanku. Dengan menulis, aku mampu menempatkannya di rongga dada sebelah kiri, selalu bernafas dan mengingat namanya sirkuit O2 dan CO2. Teringat lagi dengan pelajaranku saat SD dulu. Saat itu guruku menyatakan, bahwa CO2 itu jelek dan O2 itu bagus. Aku baru berpikir sekarang, bahwa input dan output tak sejalan, inputnya baik outputnya buruk, mengerikan. Lalu apakah ini kehidupan yang banyak diperdebatkan orang? Terus ku menulis hingga tangan ini mulai resah, resah karena pegal disetiap sendi, namun hatiku pasang ego tinggi untuk terus paksa bergerak. Menulis dan menulis katanya.

Menulis adalah merencanakan hidup. Bagaimana bisa menulis merencanakan hidup? Hidup yang seperti apa, apakah tentang cita-cita atau sekedar profesi? Sejauh yang kutahu, hidup adalah as sulam untuk mendapatkan as salam. As sulam adalah tangga dan as salam adalah kebahagiaan. Jadi, kata ustadzku bahwa kerangka kehidupan dalam islam sudah jelas, islam adalah media ataupun tangga untuk meraih kebahagiaan. Bagaimana bahagia menurutmu? Hati-hati kalau jawab. Bila tak hati-hati dan salah mendefinisikannya, hasilnya adalah output berupa CO2 yang memberikan sesak bagi masyarakat karena ulah wakil rakyat di pucuk-pucuk sana. Hmmmm, jadi ingat merk teh yang unggulkan pucuk-pucuknya. Tampaknya harus berfikir untuk setia kepada merk teh yang apapun makannya, minumnya teh merk itu. Pucuk tidak selalu manis, pucuk tak selalu kuat.

Sahabatku, maafkan aku jika ada ucap dan huruf yang membuatmu mengingatku, bias karena salahku atau rindu padaku yang menempel di hatimu.

azzam

0 komentar:

Posting Komentar